Home   |   Easter Articles   |   Free Easter e-Cards Greeting Gift

Easter Short Stories

What is the meaning of Easter?
While the focus was once on Easter Sunday, now it is on the Easter Bunny. But Easter Sunday is much more than a day of colorful plastic eggs and chocolate bunnies; it is in fact a day that left the world forever changed.

It had been three days since Jesus had received the death penalty by popular vote. His friends and followers were devastated, as they had come to believe that He was not just an ordinary man, but the Son of God. He had performed miracles, healed every disease, and even brought a man back from the dead.

On that third day—the day we now celebrate as Easter Sunday—His friends went to His grave, but instead of finding His body, they found an open tomb with no body in it. In fact, what they saw was an angel who told them, “Don’t be afraid! I know you are looking for Jesus, who was crucified. He isn’t here! He has been raised from the dead, just as He said it would happen” (Matthew 28:5, 6).

Jesus rose from the dead on Easter Sunday; now He offers to you the gift of eternal life and forgiveness of sins. This is the true story of Easter, and this salvation is for you.   GOD loves YOU!


HIDUP ITU ABADI, MATI ITU MIMPI

Oleh: Eka Darmaputera
http://www.glorianet.org/paskah/paskhidu.html
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

GloriaNet: Paskah tahun ini (1999 -red) bagi banyak rekan penulis, para pendeta, barangkali sekadar bagian dari rutinitas 
yang tidak banyak beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bagi banyak kantor swasta atau pemerintah, Paskah tahun ini berarti 
membentuk panitia, mengumpulkan dana, menyusun acara, memesan tempat, mencari pembicara, dan sebagainya, persis seperti 
tahun-tahun sebelumnya.

Paskah tahun ini bagi penulis, sungguh amat berbeda. Ada begitu banyak permohonan untuk menyampaikan khotbah Paskah yang, 
dengan hati berat, terpaksa penulis tolak. Ada begitu banyak permintaan untuk menulis artikel mengenai Paskah, yang tidak 
dapat penulis penuhi. Tahun ini, alangkah sulit berbicara secara bermakna mengenai Paskah!

Kata "paskah," seperti Anda mafhum, berarti "sudah lewat." Bahwa keadaan yang terburuk sudah berlalu. Bahwa saat-saat yang 
paling kritis telah terlampaui. Istilah ini terpatri sejak malam terakhir, ketika Bani Israel masih berada di Mesir sebagai 
budak. Keadaan waktu itu genting benar. Malaikat maut ditugaskan Tuhan berkunjung secara door to door, menjemput setiap anak 
sulung yang ada di rumah. Semua anak sulung. Kecuali yang berada di rumah-rumah yang berlabur darah kambing domba di ambang 
pintu.

Karena itu, bayangkan sekiranya Anda berada di sana saat itu! Ketika dari kejauhan Anda mulai mendengar bunyi ketuk-ketuk 
langkah kaki sang malaikat maut. Tok ... tok ... tok. Semakin lama, semakin jelas. Lalu Anda mendengar malaikat maut itu 
mengetuk pintu rumah sebelah. Tak lama kemudian, terdengar jeritan panjang. Seorang ibu, tetangga sebelah rumah, kehilangan 
anak sulung. Seperti ibu-ibu sebelumnya. Bulu roma Anda berdiri. Sebab setelah rumah sebelah, itu berarti giliran rumah Anda. 
Benar saja. Ketuk-ketuk langkah kaki itu kian mendekat. Tok ... tok ... tok, lalu berhenti tepat di depan pintu rumah Anda. 
Astaga!

Tetapi tak lama. Kemudian Anda mendengar bunyi ketuk-ketuk langkah kaki. Cuma saja, bunyi itu kini semakin jauh, semakin 
jauh, semakin jauh. O ... Anda menarik nafas lega amat panjang. Anda berlutut, berdoa, bersyukur kepada Allah. Dengan bibir 
gemetar Anda mengucapkan, "Paskah!" Sudah lewat! Keadaan yang terburuk, sudah berlalu! Saat-saat paling kritis, telah 
terlampaui! Aleluya!

Itu dulu. Di sana. Sekarang, keadaan kita jauh berbeda. Bagi mereka yang pesimis, yang terburuk belum berlalu, tetapi masih 
akan datang. Keadaan yang sudah amat buruk sekarang ini, bagi mereka, tetap masih belum yang terburuk. Sedangkan bagi yang 
paling optimis, yang terburuk juga belum berlalu. Ia masih begitu betah bertengger di halaman rumah kita. Belum "paskah!" 
Sebab itu, penulis tadi mengatakan, ber-"bla bla bla" tentang Paskah, memang apa susahnya.

Namun berbicara dengan bermakna, mengenai Paskah untuk Indonesia tahun 1999, wow, alangkah sulitnya! Masih ada lagi.

Paskah yang sesungguhnya, seperti Anda maklumi, adalah pesta "kehidupan." Paskah adalah peristiwa ketika manusia 
diperkenankan memasuki awal sejarah dan realitas baru. Yaitu, ketika kehidupan berkuasa atas kematian. Bukan seperti 
sebelumnya, ketika seakan-akan kematianlah yang menguasai kehidupan.

Bagi yang sadar, ini adalah realitas yang dahsyat dan luar biasa. Begitu luar biasa, sehingga Paulus ketika menyadari hal 
ini, bagai pemain sepakbola yang baru saja mencetak gol yang amat menentukan, berlari kesetanan ke seputar lapangan, sambil 
berteriak-teriak, "Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"

Di Indonesia, tidak ada pesta itu. Tidak ada pesta kehidupan. Sebab di negeri kita sekarang ini, aroma kematian jauh lebih 
menyengat. Darah masih terus saja tertumpah sia-sia di mana-mana. Semakin tebal menggenangi persada, yang pernah begitu 
membanggakan kerukunan yang nyaris sempurna.

Sekarang orang tidak lagi bertempik sorak atas kehidupan. Mereka cuma bersorak kegirangan, ketika mereka berhasil membunuh 
atau menghancurkan. Di Aceh, di Kalimantan Barat, di Timor Timur, di Irian Jaya, di Maluku, di mana-mana. Bangsaku yang 
lembut dan santun, kini berubah menjadi ibarat binatang yang ganas, buas dan liar.

Kemudian, seperti Anda ketahui, Paskah adalah pesta "kemenangan." Christos Victor! Kemenangan Yesus adalah representasi 
kemenangan orang-orang kecil di mana-mana, yang teraniaya dengan semena-mena. Paskah adalah simbol kemenangan dari kehendak 
baik atas konspirasi jahat. Cermin kemenangan dari yang adil atas yang bathil. Bukti kemenangan dari kuasa kasih atas 
kekuatan dendam dan kebencian. Jaminan kemenangan dari kuasa yang menghidupkan atas ketakutan yang mematikan.

Namun, sekali lagi, itu dulu. Di sana. Sekarang, April 1999, keadaan kita begitu jauh berbeda. Pesta kemenangan itu--bila 
ada--masih harus kita tunda dulu, entah sampai kapan. Sebab, sekarang gedung tempat kita akan berpesta kemenangan itu masih 
ditempati orang lain untuk pesta yang lain.

Bila Anda adalah rakyat kecil yang kelaparan atau mahasiswa yang menghendaki proses reformasi dilanjutkan, atau bagian 
masyarakat yang menuntut pemerintahan yang bersih dan transparan, atau cendekiawan yang mengutamakan kebenaran dan kejujuran, 
atau agamawan yang menghendaki perdamaian--Anda masih harus menanti lama, jauh di luar pintu gerbang.

Sekarang pagar-pagarnya masih dijaga rapat oleh pasukan pengendali huru-hara. Ironis bukan, belum cukup reformasi ini berusia 
setahun, kekuatan rakyat yang dulu pernah disanjung sebagai pahlawan reformasi, kini berganti sebutan menjadi ekstremis dan 
pembuat huru-hara. Sementara itu, si pembuat huru-hara yang sebenarnya, bebas berkeliaran ke mana saja. Bukan tidak mungkin 
dengan penjagaan keamanan yang berlapis-lapis.

Sekiranya Anda bertanya-tanya--entah dalam terang, entah dalam gelap--mengapa jalan sejarah harus begitu dan mengapa Tuhan 
seakan-akan membiarkan orang-orang yang berniat baik bernasib malang, Anda tidak sendirian. Pemazmur juga pernah merasakan 
hal yang sama dan mencurahkan rasa frustrasinya.

Sesungguhnya itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku 
mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah (Mazmur, 73:12).

Telah dikatakan bahwa baru beberapa bulan berlalu--belum sampai setahun--kita berpesta-pesta diliputi euphoria bahwa era 
reformasi telah tiba. Bahwa kita sedang memasuki era Indonesia baru yang adil, demokratis, bersih dari KKN dan menghormati 
kehendak serta kedaulatan rakyat. Kita tahu bahwa mustahil keadaan akan berubah dalam sekejap. Tetapi kita toh penuh dengan 
optimisme bahwa semua pasti mampu kita perbaiki sedikit demi sedikit, tahap demi tahap. Bahwa yang terburuk sudah berlalu. 
Paskah!

Namun, itukah yang terjadi? Samasekali tidak! Keadaan bukan bertambah baik, melainkan justru bertambah buruk. Indonesia kian 
terpuruk. Katakanlah oleh Anda, apa yang berbeda sekarang dibandingkan dengan era sebelumnya? Lebih adilkah pemerintah 
sekarang? Adilkah membiarkan demonstrasi yang satu aman terkawal, sedang yang lain diporak-porandakan dengan ganas dan 
beringas? Lebih bersihkah rezim sekarang?

Katakanlah, kasus KKN. Apa yang pernah dibawa ke Pengadilan dan diperlakukan, sesuai dengan perasaan keadilan masyarakat? 
Lebih rukun bersatukah Indonesia kita? Atau kian berdarah-darah?

Anda berhak memberikan jawaban Anda sendiri. Tetapi yang pasti, "paskah" yang sejati belum ada di sini. Yang terburuk masih 
belum berlalu. Krisis yang terhebat masih belum terlampaui. Amit-amit jabang bayi, semoga jangan sampai kita masih harus 
menanti yang lebih buruk lagi!

Penulis ingin membagikan sedikit pengharapan. Kemenangan Yesus di Paskah yang pertama itu, untuk Anda ketahui, memang bukan 
mewariskan suatu lampu wasiat. Yang cukup kita gosok dan jin penolong akan segera muncul memenuhi keinginan kita. Kemenangan 
Yesus--walaupun sempurna--lebih bersifat meletakkan awal dan dasar, untuk terus kita lanjutkan. Peperangan besar memang telah 
selesai, tetapi pertempuran-pertempuran kecil masih terus berlanjut. Paskah menyediakan modal awal yang mesti kita kembangkan 
dan amanat untuk kita emban.

Karena itu, jangan Anda menggerutu atau merajuk, bila pintu masuk ke gedung pesta masih belum dibukakan. Saat berpesta memang 
belum tiba. Sekarang adalah saat untuk berjuang. Namun berjuang dengan roh dan realitas baru. Bahwa kehidupan lebih digdaya 
ketimbang kematian.

Sedikit pun tidak perlu kita risau, taruh kata Paskah tahun ini tidak sanggup lagi kita rayakan dengan telur-telur berhias, 
karena mahalnya. Tuhan hanya akan kecewa, bila Anda memilih untuk mengeluh ketimbang berjuang. Padahal oleh roh Paskah, 
seperti kata Paulus, kita "lebih daripada orang-orang yang menang" (Roma 8:38). We are winners, not losers. Pemenang, bukan 
pecundang.

Mudah-mudahan sajak sederhana di bawah ini dapat Anda nikmati, sebelum penulis mengucapkan SELAMAT HARI PASKAH, dan menutup 
refleksi ini.

Bila kita enggan memasuki malam
bagaimana mungkin kita bangun menatap menyingsingnya fajar.

Bila kita enggan terpejam dalam tidur dan terlena dalam mimpi
bagaimana mungkin kita menikmati suka cita mentari pagi. 

Tidur adalah semacam 
kematian mini 
yang berakhir di nafas pagi.

Mati adalah semacam tidur yang panjang dan lama 
dalam dekap hangat pelukan Allah. 

Dan fajar menyeruak cakrawala 
setiap jiwa 
sebab janji Allah adalah kehidupan bukan kematian
sebab cuma melalui mati orang 
mencicipi hidup abadi.

(SP-030499)
* Penulis Adalah Kolomnis GloriaNet, Tulisannya dapat dilihat di Kolom EkaDarmaputera


Easter Photo
Easter Song
Greeting e-Cards
Easter Egg

Free Greeting e-Cards:
         
         



Easter Articles:
 
Browse the web faster

Easter Short Stories
Christian Articles
Greeting e-Cards



  Home   |   Easter Articles   |   Free Easter e-Cards Greeting Gift
  @ 1997-2007 GSN Hosting (FX. Sukiyanto, S.Kom)