Home   |   Easter Articles   |   Free Easter e-Cards Greeting Gift

Easter Short Stories

What is the meaning of Easter?
While the focus was once on Easter Sunday, now it is on the Easter Bunny. But Easter Sunday is much more than a day of colorful plastic eggs and chocolate bunnies; it is in fact a day that left the world forever changed.

It had been three days since Jesus had received the death penalty by popular vote. His friends and followers were devastated, as they had come to believe that He was not just an ordinary man, but the Son of God. He had performed miracles, healed every disease, and even brought a man back from the dead.

On that third day—the day we now celebrate as Easter Sunday—His friends went to His grave, but instead of finding His body, they found an open tomb with no body in it. In fact, what they saw was an angel who told them, “Don’t be afraid! I know you are looking for Jesus, who was crucified. He isn’t here! He has been raised from the dead, just as He said it would happen” (Matthew 28:5, 6).

Jesus rose from the dead on Easter Sunday; now He offers to you the gift of eternal life and forgiveness of sins. This is the true story of Easter, and this salvation is for you.   GOD loves YOU!


Penyerahan Diri Yesus

http://www.pondokrenungan.com
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Paradigma Sosio-Spiritual Penyerahan Diri Yesus ADALAH penyair Lebanon yang hidup di Amerika, Kahlil Gibran (1833-1931), yang 
memberi ungkapan tajam puitis menembus kehidupan mengenai kematian Yesus. Inilah katanya, "Ketika Orang kesayangan itu mati, 
seluruh umat manusia pun mati, seluruh makhluk sejenak terdiam dan kelabu. Ufuk timur menggelap, badai terlepas dari sana 
menyapu daratan. Mata langit berkedipan, hujan tercurah dari saluran membasuh darah yang mengucur dari tangan dan kaki-Nya." 
(Jesus the Son of Man, New York: 1928).

Jeritan puitis ini menggambarkan kedukaan manusiawi yang menggelegak di seluruh semesta atas peristiwa tragis-tak-tertandingi 
sepanjang sejarah umat manusia, bahwa Seorang Pewarta dan Penghayat Kasih-Sejati demi manusia papa miskin tersingkir, justru 
dibunuh secara keji, bengis, dan kejam atas dalih demi kemurnian agama dan stabilitas pemerintahan-penguasa. Namun, 
sesungguhnya, di dalam kedukaan manusiawi atas kematian Sang Kasih Sejati itu, berkaryalah Allah yang dengan tulus menerima 
kesadisan dan kebengisan dengan berkah berlimpah, yakni kehidupan kekal melalui kebangkitan. Sisi ini tidak boleh dilepaskan 
begitu saja manakala kita merenungkan misteri Salib Yesus di puncak kekejaman dan kebejatan Golgota. Justru dimensi inilah 
yang menjadi kiblat umat beriman, sehingga berkeyakinan, dalam misteri Salib Yesus terbentang kasih seluas semesta dan 
selebar dunia keabadian.

Memang, peristiwa penyaliban menjadi simbol kekejaman dan kebejatan umat manusia yang menolak Kasih Sejati. Secara simbolik, 
Yesus yang menawarkan Kasih Sejati tidak lagi diberi tempat berpijak di Bumi yang berlumuran dosa dan kedurhakaan. Melalui 
penggantungan tubuh Yesus di kayu salib, Yesus tergantung pula antara langit dan Bumi, akibat penolakan keji terhadap seluruh 
keradikalan-Nya membela kaum lemah tersingkir, miskin tertindas, papa nelangsa. Yesus menerima salib sebagai pemaknaan atas 
kesetiakawanan dan belarasa dengan semua orang yang "disalibkan" dalam sejarah umat manusia sebagai korban-korban ketegaran 
hati manusia yang congkak, angkuh, pongah, sombong, dan struktur sosial yang kaku demi status-quo kekuasaan dunia. Dalam cara 
kematian demikian, kematian-Nya menjadi utuh, pengorban-Nya tidak purna, tetapi sempurna. Keutuhan dan kesempurnaan ini 
terpancar pada kata-kata terakhir Yesus di kayu salib yang melukiskan penyerahan total diri-Nya. Penyerahan diri itu 
dipersembahkan secara bebas, bukan sikap menyerah pasrah pada nasib, tetapi menyerah pasrah pada Kasih. "Bapa, ke dalam 
tangan-Mu Kuserahkan roh-Ku.... Sekarang selesailah sudah" (Luk 23:46; Yoh 19:30) itulah kalimat terakhirNya sesaat sebelum 
wafat.

JUJUR kita akui, tragedi penyaliban Yesus tidak hanya terjadi 2.000 tahun silam, tetapi terjadi saat ini juga. Tragedi-tragis 
yang menimpa Yesus menjadi format kebengisan yang hingga detik ini masih sering kita alami dan hadapi. Simaklah sejarah 
perjuangan manusia untuk memperoleh keadilan dan kebebasan tidak banyak membawa hasil, karena terbentur tembok kekuasaan dan 
penyalahgunaan hukum. Sejarah hidup kita diwarnai perjuangan para martir yang dikalahkan oleh struktur busuk ketidakadilan 
berkepanjangan. Lihatlah, betapa para penindas dan provokator memporakporandakan persaudaraan, kerukunan, keharmonisan, 
kesatuan berbangsa, dan bermasyarakat terus saja memperoleh kemenangan. Beribu-ribu manusia tidak bersalah mencurahkan 
darahnya di berbagai tempat akibat kerusuhan, penjarahan, pembakaran, penculikan, dan politik adu-domba antarsaudara 
sebangsa. Kasus Ambon, Sambas, Mataram, Sampit, dan kesadisan-kesadisan di berbagai tempat sebelumnya, adalah contoh 
penyaliban di abad ini yang membuat kita tak pernah berhenti berpikir dan berprihatin. Penyaliban abad ini tergambar pula 
dalam diri sekian milyar janin dan embrio yang menjadi korban aborsi dan penelitian ilmiah di laboratorium. Kengerian salib 
digemakan oleh jerit-tangis para bayi yang tiada terucapkan sehingga tak terdengar oleh para ibu dan ilmuwan yang suara 
hatinya telah mati dan tumpul. Kekejaman salib terulang lagi dalam diri beribu-ribu karyawan yang ditimpa keputusasaan dan 
penderitaan karena dikenakan PHK. Kesadisan salib tergambar pula dalam diri rakyat kecil yang hidup dalam sistem dan 
mekanisme pemerintahan yang represif sehingga tidak sedikit rakyat yang menjadi sasaran berbagai macam kekerasan. 
Perkosaan-perkosaan terhadap hak-hak pribadi manusia yang suci, terutama milik orang miskin, dibenarkan demi mempertahankan 
keamanan masyarakat yang sah.

Sisi-sisi gelap kehidupan inilah yang membuat seruan Kahlil Gibran itu dapat dibenarkan: Kematian-Nya adalah kematian semua 
manusia. Namun, kita tidak boleh mandek pada keputusasaan yang fatalistik, sebab di dalam kematian-Nya terbentang kehidupan 
kita. Itulah sebabnya, Kahlil Gibran menggambarkan di pengujung permenungan-puitiknya bahwa "dengan kematian, Yesus telah 
menaklukkan kematian, dan mawar dari kuburan roh dan kekuatan... Dia tidak terbaring di batu yang terbelah di antara 
batu-batu."

BENAR, kebangkitan itu sudah dan sedang terjadi. Kebangkitan dari maut sudah terjadi dalam diri Yesus yang disebut Kristus 
(Isa Almasih). Kebangkitan sedang terjadi dalam diri kita, manusia berdosa yang berpegang pada pengharapan-Nya. Inilah 
kebangkitan kita yang sedang terjadi menurut permenungan Leonardo Boff dalam bukunya, Way of the Cross Way of Justice 
(Maryknoll, 1980). Dengarlah seruannya yang menjadi pengharapan kita bersama: Di mana saja kehidupan manusia yang asali 
bertumbuh di dunia, di mana saja keadilan menang atas dorongan untuk berkuasa, di mana saja rahmat menang atas kuasa dosa, di 
mana saja manusia menciptakan suasana persaudaraan dalam hidup mereka bersama, di mana saja cinta menang atas egoisme, dan di 
mana saja harapan mengalahkan rasa putus asa dan sikap sinis, di sana proses kebangkitan sedang mulai bersemi dan menjadi 
kenyataan.

Kebangkitan terjadi manakala kita tidak menganggap orang lain sebagai musuh. Kebangkitan terjadi ketika dalam pluralitas ini 
kita dapat bersatu bergandengan tangan satu sama lain membangun persaudaraan sejati. Kebangkitan terjadi kalau kita bisa 
duduk bersama tanpa emosi dan mencari jalan keluar atas berbagai masalah kehidupan dengan hati jernih, budi bening, jiwa 
bersih. Kebangkitan terjadi jika yang menjadi musuh bersama bukanlah pribadi seseorang, namun ketidakadilan, egoisme, 
kemiskinan, dan struktur yang menindas. Rupanya, kita diajak terbuka menatap ufuk timur yang menjanjikan fajar pengharapan 
dalam kerendahan hati dan saling mengerti. Fajar pengharapan inilah yang membuat kita dapat melihat dalam terang, mendengar 
getaran cinta, dan memandang kehidupan dalam kejernihan. Manakala ini semua terjadi, tidak mudahlah kita menerima berita 
tanpa data, hanyut dalam provokasi yang menghancurkan dan waspada terhadap setan-setan pemecah belah yang berkeliaran di 
antara kita.

Semoga cahaya Paskah, yakni "Salib-Kristus" memberikan kejernihan budi, kebersihan hati, kebeningan jiwa pada kita sehinga 
kita dapat memandang segala peristiwa dengan kepala dingin penuh kasih terhadap sesama! Selamat Paskah!

* Aloys Budi Purnomo Pr, rohaniwan, tugas di Seminari Tinggi St Petrus, Pematang Siantar, Sumatera Utara.


Easter Photo
Easter Song
Greeting e-Cards
Easter Egg

Free Greeting e-Cards:
         
         



Easter Articles:
 
Browse the web faster

Easter Short Stories
Christian Articles
Greeting e-Cards



  Home   |   Easter Articles   |   Free Easter e-Cards Greeting Gift
  @ 1997-2007 GSN Hosting (FX. Sukiyanto, S.Kom)